Pengen kenal sama 'Ree' ?
Klik di sini

Minggu, 28 Agustus 2011

Anak Tidak Percaya Diri

Banyak diantara anak-anak kita atau bahkan diri kita sendiri tertimpa rasa tidak percaya diri. Rasa tidak percaya diri yang berlebihan dapat menghambat perkembangan seseorang. Jadi perasaan ini harus kita antisipasi sedini mungkin pada diri anak kita agar mereka bisa berkembang menjadi pribadi yang mandiri. Rasa tidak percaya diri pada anak biasa ditandai dengan gejala-gejala sebagai berikut :

Susah berbicara, gagap, dan gagu.
Menutup diri, adanya rasa malu, dan tidak berani.
Ketidakmampuan berfikir secara mandiri.
Merasakan ada kejahatan dan bahaya serta bertambahnya rasa ketakutan dan kekhawatiran.

Adapun yang menjadi sebab tidak percaya diri pada anak biasanya adalah sebagai berikut :

Cara mendidik yang salah dan berdasar pada ancaman, kekerasan, dan pemukulan setiap kali anak berbuat kesalahan atau main-main sesuatu.
Sering disalahkan, dipukul, diancam, dicela, dan direndahkan.
Orang tua terlalu membatasi setiap perilaku anak dan cara berfikirnya.
Selalu dibandingkan dengan anak yang lain untuk memberinya motivasi, terkadang justru memberikan pengaruh yang sebaliknya.
Meremehkan kemampuan dan harga dirinya serta melemahkan minatnya.
Bentuk badan yang kecil, tubuhnya yang cacat, seperti pincang, buntung, dan sebagainya.
Rendah IQ dan keterlambatan dalam belajar.
Selalu mencelanya ketika ia mengalami kegagalan.
Banyaknya pertengkaran antara kedua orangtuanya.
Dibebani pekerjaan yang diluar kemampuannya. Dan bakatnya sehingga ia tidak mampu dan gagal.

Sedangkan usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk menyembuhkan atau mengurangi rasa tidak percaya diri adalah sebagai berikut :

Menunjukkan rasa kasih sayang, khususnya dari kedua orang tua.
Membiarkan anak memilih sendiri makannya, minumnya, dan permainannya. Sebaiknya orang tua tidak terlalu mengatur dalam hal-hal yang memang terdapat kelapangan dalam syari’at. Adapun dalam hal yang disyari’atkan (misal: makan dengan tangan kanan) maka sebaiknya orang tua mengarahkan sejak dini.
Memotivasi anak dan meningkatkan kemampuannya serta memujinya dengan kebaikannya.
Ketika dibandingkan dengan anak lain, hendaknya disebutkan pula kebaikannya disamping anak yang dibandingkan dengannya serta menyebutkan kemampuan keduanya, kemudian menyuruh untuk berbuat sebagaimana yang telah dilakukan yang lain agar menjadi lebih baik darinya.
Orang tua hendaknya tidak saling mengoreksi di hadapan anak-anak, tidak saling mencela, atau berselisih di hadapan mereka.
Menyebutkan namanya pada pertemuan-pertemuan, memujinya secara proporsional didepan orang-orang dewasa dan tidak menyebutkan kekurangannya di hadapan mereka maupun anak-anak kecil.
Menggunakan kisah/cerita dan permainan untuk menyembuhkan penyakit tidak percaya dirinya.
Teladan dari kedua orang tua dalam hal percaya diri dan tidak bimbang.
Membawanya dalam kumpulan orang-orang dewasa, dan membuatnya mau berbicara tentang kemampuannya dalam membaca al-Qur’an, hadits, cerita-cerita, dan lain-lain. Jangan lupa untuk mengingatkan bahwa semua itu adalah nikmat dari Allah semata.
Menyuruhnya membeli beberapa keperluan dari toko dan memberinya tanggung jawab yang ringan sesuai kemampuannya.
Mendengarkan dengan baik ketika anak berbicara dan tidak meremehkannya.
Menemaninya dalam menyelesaikan permasalahannya yang kecil dan dalam memilih kebutuhan pribadinya, seperti memilih mainan, pakaian, dan lain sebagainya.
Membiasakannya berpuasa meski hanya beberapa jam saja, dan memujinya apabila ia melakukannya.
Mencontoh masa kecil Rasulullah shalallahu’alaihi wasslam dan mengajarkannya tentang masa kecil Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam.
Memperdalam kepercayaan tentang takdir dalam hatinya dan menghubungkan segala sesuatu dengan Allah ‘azza wa jalla.



***

Diambil dari: Metode Pendidikan Anak Muslim Usia Prasekolah, Abu Amr Ahmad Sulaiman, Darul Haq dengan sedikit perubahan dari muslimah.or.id

sumber

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar